
Anda mungkin sering mengalami hal yang sama. Setiap kali membuka media sosial atau situs berita, judul-judul yang muncul terasa seperti bersaing untuk membuat hati semakin jengkel. Kasus-kasus korupsi yang tak pernah berakhir. Pejabat yang sibuk memperkaya diri sendiri, padahal rakyatnya masih banyak yang kesulitan. Wakil rakyat yang seharusnya peduli, justru sibuk dengan drama politik. Akhirnya, membaca berita bukan lagi menjadi kegiatan mencari informasi, tapi seperti ujian kesabaran yang menguras energi.
Namun, menutup diri sepenuhnya bukanlah solusi. Anda tetap hidup di tengah masyarakat yang keputusannya dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di posisi penguasa. Tidak bisa dipungkiri, ada kebijakan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari Anda, seperti kondisi dapur rumah, pendidikan anak-anak, bahkan harga kebutuhan pokok di pasar dekat tempat tinggal. Oleh karena itu, wajar jika Anda merasa dalam situasi sulit: ingin tahu, tapi jenuh; ingin peduli, tapi lelah.
Pada titik ini muncul pertanyaan penting: bagaimana cara tetap peduli tanpa terjebak dalam aliran berita negatif yang tidak pernah berakhir?
Rasa Mual yang Wajar, Namun Bisa MerusakMari kita jujur. Rasa tidak suka itu wajar. Bila melihat orang-orang yang seharusnya menjadi contoh justru merusak kepercayaan masyarakat, siapa pun pasti merasa marah. Ada perasaan dikhianati, padahal kepercayaan adalah dasar dari hubungan sosial. Seorang ahli sosiologi pernah mengatakan, kepercayaan ibarat udara—tak selalu terlihat, namun tanpa itu manusia akan merasa sesak.
Saat kepercayaan masyarakat berantakan, dampaknya tidak hanya terasa di ranah politik, tetapi juga memengaruhi psikologi masyarakat. Orang menjadi lebih mudah mencurigai. Setiap kebijakan dianggap memiliki maksud tersembunyi. Setiap kabar positif dipersepsikan sebagai rencana tersembunyi. Akhirnya, yang muncul bukan sikap kritis, melainkan skeptisisme berlebihan.
Jika dibiarkan, rasa jijik ini dapat berubah menjadi racun. Ia merasuki percakapan sehari-hari, menyebabkan obrolan di warung kopi penuh dengan umpatan. Ia mengikis semangat kerja, karena orang merasa segala sesuatu sia-sia—apalagi yang berkuasa korup. Lebih lanjut lagi, ia bisa membuat hati menjadi keras, kehilangan harapan, dan menganggap semua orang sama saja.
Meskipun demikian, tidak semua orang sama. Ada yang masih menjaga kejujuran, ada yang masih berusaha dengan penuh tanggung jawab. Hanya saja, berita negatif sering kali lebih sering disampaikan secara besar-besaran, karena cerita dramatis lebih diminati dibanding kisah kesetiaan.
Menyembunyikan Diri: Penyelesaian Sementara yang BerisikoBanyak orang akhirnya memutuskan untuk menjauhkan diri. Tidak lagi mengikuti berita, tidak tertarik pada diskusi masyarakat, bahkan ada yang dengan percaya diri menyebut dirinya "buta politik". Secara sekilas, pilihan ini terasa damai. Anda tidak lagi terganggu oleh berita negatif. Pikiran terasa lebih ringan.
Namun, jika ditelusuri lebih jauh, sikap ini memiliki sisi yang berbahaya. Karena meskipun Anda memilih untuk diam, dunia tetap bergerak. Harga bahan bakar minyak bisa meningkat tanpa pemberitahuan. Aturan bisa berubah tanpa menunggu persiapan Anda. Pajak bisa diperketat tanpa meminta persetujuan Anda secara pribadi. Oleh karena itu, menutup diri sepenuhnya hanya akan membuat Anda tidak siap menghadapi perubahan, padahal dampaknya nyata terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, diam yang berkepanjangan juga dapat membuat ruang publik hanya dihuni oleh mereka yang keras suaranya dengan ejekan. Akibatnya, diskusi yang sehat semakin langka, dan yang tersisa hanyalah kebisingan yang melelahkan.
Kunci: Tahu Cukup, Peduli SecukupnyaYang diperlukan sebenarnya bukanlah diam sepenuhnya, melainkan sikap yang pilih-pilih. Anda tetap bisa memperoleh informasi penting, tanpa harus terjebak dalam arus berita negatif. Prinsipnya mudah: cukup tahu secukupnya, peduli sebatas perlu, dan jaga hati dengan kuat.
Cara melakukannya? Ada beberapa tahapan yang mudah.
Pertama, anggap judul berita sebagai petunjuk arah, bukan sebagai bahan bacaan utuh. Membaca sekilas judul seringkali sudah cukup untuk memahami inti dari suatu peristiwa. Jika isu tersebut benar-benar penting, biasanya akan muncul kembali di berbagai sumber. Oleh karena itu, tidak perlu membuka semua detail setiap kali.
Kedua, pilih sumber informasi yang jelas dan dapat dipercaya. Dalam kondisi di mana media online sangat banyak, banyak pihak yang mencari klik dengan judul yang menarik perhatian. Jika Anda tidak waspada, emosi Anda bisa terbawa tanpa menyadari. Oleh karena itu, penting untuk memiliki beberapa sumber yang terpercaya yang lebih fokus pada penyampaian informasi, bukan sensasi.
Ketiga, batasi durasi penggunaan berita. Jangan biarkan diri Anda menghabiskan jam-jam hanya untuk membaca berita politik yang penuh dengan konflik. Tetapkan waktu tertentu—misalnya 15 menit di pagi hari atau 15 menit di malam hari. Sisanya, biarkan pikiran Anda terisi dengan hal-hal yang lebih berguna.
Empat, jangan terjebak dalam perdebatan di media sosial. Hal ini paling berbahaya, karena sering kali bukan lagi tentang berita, melainkan soal kebanggaan diri. Komentar yang saling menyerang membuat Anda menjadi marah, meskipun awalnya hanya ingin membaca.
Dengan cara ini, Anda dapat tetap terbaru tanpa kehilangan ketenangan pikiran.
Hati: Tempat Pertarungan yang AsliJika dipikir lebih mendalam, yang paling terkena dampak dari berita negatif sebenarnya bukanlah para pejabat, melainkan hati Anda sendiri. Mereka mungkin tetap bisa tidur nyenyak, menikmati makanan lezat, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, hati Anda bisa hancur akibat sering marah, kecewa, atau putus asa setiap kali membaca informasi tentang mereka.
Di sinilah pentingnya mengingat nilai kepercayaan dan kesabaran. Dalam pandangan agama Islam, setiap individu memiliki lingkup pengaruh masing-masing. Kita tidak diwajibkan memperbaiki segala sesuatu yang berada di luar kemampuan kita, tetapi kita diharuskan menjaga kepercayaan dalam lingkup yang dapat kita kendalikan. Hal ini bisa berupa keluarga, pekerjaan, atau komunitas kecil di mana kita terlibat.
Jika hati Anda telah terluka oleh berita negatif, bagaimana mungkin bisa menjalankan tanggung jawab dengan baik? Bagaimana mungkin bisa bersabar dalam mendidik anak, jika setiap hari pulang dengan perasaan marah akibat membaca komentar politik?
Maka menjaga hati tidak berarti menghindari kenyataan, melainkan melindungi pusat energi yang menentukan kualitas kehidupan Anda.
Perspektif Psikologis: Dampak Buruk Pemaparan Berita NegatifPsikologi modern menggambarkan fenomena ini sebagai "doomscrolling"—kebiasaan membaca berita buruk secara terus-menerus meskipun membuat perasaan semakin cemas. Penelitian menunjukkan bahwa paparan informasi negatif yang berlebihan dapat meningkatkan tingkat stres, memicu rasa cemas, dan bahkan mengganggu kualitas tidur.
Otak manusia memiliki kecenderungan alami untuk lebih merespons informasi negatif dibanding yang positif. Hal ini dikenal sebagai "bias negatif". Evolusi membentuk kita demikian, karena ancaman lebih penting untuk diketahui agar bisa bertahan hidup. Namun di era digital, bias ini dimanfaatkan oleh media. Akibatnya, kita mungkin terjebak dalam siklus kecemasan yang tidak sebanding dengan kenyataan.
Itulah sebabnya, meskipun ada berita positif, Anda jarang melihatnya menjadi berita utama. Sebaliknya, skandal, perselisihan, atau korupsi lebih sering ditampilkan. Padahal jika dihitung, banyak hal baik tetap terjadi dalam masyarakat—hanya saja tidak sebanyak berita negatif.
Perspektif Sosial: Bagaimana Masyarakat Dibentuk oleh CeritaSosiologi mengajarkan bahwa masyarakat dibentuk melalui cerita atau narasi. Jika setiap hari Anda mendengar narasi bahwa semua pejabat korup, maka lama-kelamaan keyakinan tersebut menjadi kebenaran yang dianggap umum, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian. Narasi yang sering diulang dapat membentuk realitas bersama.
Bahaya dari narasi tunggal yang negatif adalah berkurangnya rasa percaya diri sebagai sebuah bangsa. Orang menjadi tidak peduli, enggan untuk berkontribusi, dan merasa segalanya sia-sia. Padahal, kemajuan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh para elit, tetapi juga oleh semangat kolektif dari warga biasa.
Maka, menjaga cara kita menerima berita bukan hanya terkait kesehatan mental pribadi, tetapi juga tentang menjaga semangat sosial. Jika terlalu terjebak dalam narasi negatif, rasa kebersamaan bisa perlahan menghilang.
Perspektif Filosofis: Kebebasan Jiwa di Tengah KekacauanFilsafat memberikan perspektif yang berbeda. Seorang filsuf dari Sekolah Stoa, Epictetus, pernah menyatakan bahwa manusia tidak mampu mengontrol kejadian di luar dirinya, tetapi dapat mengatur sikap batinnya. Meskipun ucapan ini muncul ribuan tahun yang lalu, maknanya masih terasa jelas hingga saat ini.
Anda memang tidak mampu menghentikan pejabat korup hanya dengan marah di depan layar ponsel. Namun, Anda bisa memutuskan untuk tidak kehilangan akal sehat, ketulusan, dan tujuan dalam hidup. Ini merupakan bentuk kebebasan batin yang tidak bisa direbut oleh siapa pun.
Dalam tradisi Islam juga terdapat prinsip yang serupa. Hati merupakan pusat pengendali manusia. Jika hati baik, seluruh kehidupan akan menjadi baik. Jika hati rusak, kehidupan pun akan kacau. Oleh karena itu, tugas utama bukan hanya melawan dunia luar, tetapi merawat dunia di dalam.
Mencapai Keseimbangan: Peduli Tanpa Kehilangan PengawasanBayangkan seseorang yang setiap pagi membaca laporan tentang tindakan korupsi, kemudian merasa marah dalam waktu yang cukup lama. Ia menyampaikan perasaannya dengan penuh emosi kepada rekan kerjanya, mengeluh kepada keluarga, dan menulis komentar tajam di platform media sosial. Di sore hari, ia merasa lelah dan kehilangan motivasi untuk bekerja.
Sekarang bandingkan dengan orang lain. Ia membaca berita yang sama, namun hanya melihatnya sekilas. Ia memahami intinya, menghela napas, lalu menutup ponsel. Ia memutuskan untuk fokus menyelesaikan tugasnya, membantu rekan yang mengalami kesulitan, dan menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga.
Kedua individu tersebut memiliki kepedulian yang sama. Perbedaannya, yang pertama kehilangan kendali, sedangkan yang kedua mampu menjaga keseimbangan.
Keseimbangan ini seharusnya menjadi tujuan utama. Bukan berarti Anda tidak peduli, tetapi Anda memahami apa yang harus diutamakan. Anda tahu mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak. Anda tidak menyerahkan perasaan hati pada berita negatif, karena Anda menyadari ada tanggung jawab yang lebih dekat dan nyata yang menanti untuk dilakukan.
Penutup: Pertanyaan bagi Jiwa AndaPada akhirnya, kehidupan ini bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang Anda kuasai, tetapi seberapa jelas hati Anda dalam menghadapi kenyataan.
Anda tidak dapat menentukan berita apa yang akan muncul besok, tetapi Anda memiliki pilihan bagaimana hati Anda meresponsnya. Anda bisa memilih untuk tenggelam dalam rasa jijik dan marah, atau memilih untuk tetap peduli secara wajar sambil menjaga kesehatan jiwa Anda.
Sekarang pertanyaannya, apakah Anda ingin terus-menerus membiarkan hati terpengaruh oleh berita negatif yang tak pernah berakhir? Atau apakah Anda ingin mulai mengendalikan diri sendiri, membaca secukupnya, peduli sebatasnya, dan menjaga hati dengan utuh?
Post a Comment