Butuh sesuatu yang mampu membuatmu jatuh cinta padafilmMungkin karya-karya sutradara Lucrecia Martel bisa menjadi jawabannya. Lahir dari Argentina, Martel dikenal dengan ciri khas dalam menciptakan karyanya, yaitu penggabungan isu antara kapitalisme dan perempuan. Film-filmnya selalu menyentuh masalah pembagian kelas dari sudut pandang perempuan.

Ia juga sering memakai Salta, kampung halamannya sebagai latar dalam film-filmnya. Sebuah pilihan yang sangat khusus. Maka tak heran jika karyanya terasa asli karena menggunakan sudut pandangnya sebagai warga setempat. Penasaran? Coba tonton empat film fitur berikut ini!

1. Wanita Tanpa Kepala (2008)

The Headless Womanmerupakan film terbaik karya Lucrecia Martel yang diakui oleh banyak kritikus. Film ini menyajikan sudut pandang Vero (María Onetto), seorang wanita dari kalangan atas yang sedang berkendara. Di tengah perjalanan, ia merasa menabrak sesuatu, namun memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanannya. Namun, selama perjalanan tersebut, ia terus-menerus dihantui rasa bersalah dan rasa penasaran yang tak berkesudahan.

Masalahnya, sampai kapan rasa bersalah itu akan terus menghantui dirinya? Mengapa ia enggan berhenti dan memeriksa situasi tersebut? Apakah ada kaitannya dengan kenyamanan hidup yang selama ini melindunginya?

2. The Swamp (2001)

The Swamp atau La Cienagaadalah film pertama Lucrecia Martel yang tak kalah menantang. Ia menggambarkan perbedaan kelas melalui interaksi tiga wanita dari latar belakang sosial ekonomi berbeda. Wanita pertama adalah Mecha (Graciela Borges), seorang ibu dari kalangan bangsawan. Diikuti oleh Tali (Mercedes Moran), sepupu Mecha yang termasuk kelas menengah, dan pembantu rumah tangga Mecha bernama Isabel (Andrea Lopez).

Saat Mecha liburan ke Salta bersama keluarganya, terjadi suatu kejadian yang mengubah hubungan ketiganya selamanya. The Swamp tayang perdana di Berlin International Film Festival dan mendapat banyak pujian. Seperti biasa, kritik sosial Martel tetap memukau.

3. Perempuan Suci (2004)

Tiga tahun setelah debutnya, Lucrecia Martel kembali denganThe Holy Girl.Tidak secara langsung menyentuh sosialisme, Martel menggarap film ini dengan semangat feminisme dan perlawanan terhadap patriarki. Meskipun demikian, kamu masih bisa melihat cara dia menggambarkan ekonomi Salta yang stagnan sebagai bentuk protes terhadap kapitalisme.

Plot filmnya mengisahkan Amalia (Maria Alche), seorang remaja perempuan yang tinggal bersama ibunya dan pamannya di sebuah hotel yang mereka kelola sebagai bisnis keluarga. Amalia mengalami perasaan batin yang sangat dalam ketika seorang dokter, kerabat keluarga, melakukan tindakan tidak senonoh terhadapnya. Alih-alih melaporkan masalah ini kepada orang dewasa yang ia percayai, Amalia memutuskan untuk bertindak sendiri. Ia terobsesi membuat dokter tersebut menyesali perbuatannya dengan cara yang tidak biasa.

4. Zama (2017)

Diambil dari nama tokoh fiksi Diego de Zama,Zamaadalah film yang mengkritik kolonialisme melalui sudut pandang yang berbeda. Bukan melalui korban, Lucrecia Martel mengeksplorasi praktik yang bermasalah ini melalui seorang pegawai administratif Kerajaan Spanyol di suatu wilayah yang kini menjadi bagian dari wilayah Paraguay. Zama yang memiliki status Americano, keturunan Eropa yang lahir di Amerika Latin, memiliki posisi yang khas. Tidak sepenuhnya menguntungkan, namun tetap memiliki keistimewaan.

Ia mengklaim lebih unggul dibanding penduduk asli, namun dianggap rendah oleh orang-orang Eropa "asli". Ia percaya bahwa status tersebut pula yang menyebabkannya ditempatkan di wilayah yang tidak penting, terpencil, dan paling ujung. Namun, di sisi lain, ia juga enggan berintegrasi dengan penduduk setempat dan menganggap mereka lebih rendah. Meskipun menggunakan perspektif laki-laki, Martel tidak lupa menyisipkan isu perempuan melalui beberapa tokoh yang berhubungan dengan arogansi Zama.

Lucrecia Martel merupakan salah satu sutradara yang layak diapresiasi karena kecerdasannya. Kemampuannya dalam menyajikan cerita yang kompleks tanpa membuat penonton merasa jenuh adalah sebuah keunggulan. Kesetiaannya terhadap nilai-nilaifeminisdan sosialis juga membuat filmnya berbeda serta terasa istimewa. Menonton keempat film utamanya akan membawamu merasakan pengalaman baru. Coba saja!

7 Rekomendasi Film Romantis Berbeda yang Membuat Kekaguman 7 Rekomendasi Film Paling Menarik Karya William Friedkin, Harus Ditonton!

Post a Comment

Previous Post Next Post